benar-benar sakit

Hallo dunia yang begitu aneh rasanya. Yah, hidup di dunia saya sekarang ini benar-benar bisa bikin capek ati kalo bukan orang-orang terlatih seperti saya yang sudah 16 tahun di habitat liar ini yang menjalaninya sendiri.
Diatas itu foto brin dan saya, sedang memakai baju seragam yang masih berukuran jumbo karena baru saja keluar dari penjahit. Fresh from the oven. Dan saat itu Brin dan saya masih muda, begitu muda diiringi dengan usia pernikahan kami, weleh, maksud kami usia pergituan kami, sebut saja jadian kami juga masih terhitung muda. Tidak seperti sekarang, Brin mengisi hari-hari jadiannya denganku di tanggal tua ini dengan sedikit, agak lebih sedikit, banyak lah, banyak marah-marahnya. Marah dalam arti sesungguhnya.

Dia beralasan bahwa apa yang saya lakukan merupakan hal yang bisa disebut tidak mengindahkan perintah Brin. Anggap saja perintah. Karena, walaupun dia bilang hal tersebut merupakan anjuran, tapi pada kenyataannya hal tersebut memang harus dilakukan tanpa mendengarkan alasan-alasan yang terkadang saya rasa masuk akal dan perlu menjadi bahan pertimbangan. Dan jika hal tersebut tidak diindahkan, dia tidak akan pernah peduli dengan saya, apapun yang terjadi. Mungkin jika saat itu saya tiba-tiba jatuh sakit dan harus di opname di singapore, dia tidak akan pernah tahu dan mau tahu.

Oh iya, pada saat saya datang kepadanya setelah saya rasa masalah yang sebenarnya hanya salah paham ituu harus diselesaikan, dia memberi saya penawaran untuk pemutusan hubungan. Rasanya, rasanya, hm, sudah tidak usah dijabarkan. Sejauh ini mungkin saja sudah kelewatan batas saya mencurahkan apa yang ada dihati dan pikiran saya. Karena, dulu saat kami bertengkar dia juga pernah mengatakan bahwa mendengar apa yang menjadi keluh kesah saya adalah kegiatan yang paling bisa menambah beban pikirannya. Jadi menurut saya, saya adalah beban baginya karena hidup saya penuh dengan keluh kesah.

Mungkin, dari pada menceritakan padanya keluh kesah saya yang membebaninya tersebut, lebih baik saya mencari kotak kritik dan saran di swalayan dan menuliskan keluh kesah saya. *otw to swalayan*

*after one hour*
Tiga hari ini juga, ketika saya dan dia tidak dapat bertemu secara langsung, saat saya terus memikirkan dia, dia tidak berniat sedikitpun untuk menghubungi saya lewat alat komunikasi apapun. Terakhir, dia mengkritik foto jaman dulu saya yang sedang di make up lewat sms. Apakah saya juga harus membalikkan keadaan pada saat itu ketika dia berkata bahwa apapun keadaannya ketika saya marah dan menyalahkan dia hanya bikin sakit hati.

Dan baru saja saya menyadari, satu jam yang lalu Brin online facebook untuk memberi komentar pada teman2nya dan mengganti foto profilnya tanpa membalas message atau mengirimkan message ke saya. Membalas poke saya saja tidak. SAKIT bener-bener sakit rasanya seperti ada yang menghangat di sekitar ulu hati.