Andai Saja

Langit begitu suram bagiku. Inikah pertanda bahwa hari-hari kedepanku akan sesuram langit itu? Isakku dalam tangis di hati. Mereka masih menyalahkanku. Termasuk aku yang terus saja menghujam raga ini.

***

Siang itu tak sengaja aku melihatnya. Sosok tinggi berkulit sawo matang yang acap kali memainkan bola basket di tangannya. Ketika itu aku sedang berjalan bersama Jean, sahabatku, yang sedang asyik berhaha hihi dengan pacar barunya di telepon.

Setelah beberapa menit aku memandangnya sambil berjalan tiba-tiba sosok itu memandangku, dan … brukk!! Kakiku tak sengaja menendang tempat sampah basah. Dan tak kusangka sosok itu kini membantuku berdiri dan membersihkan bajuku yang kotor karena tempat sampah itu.

***

“Ayolah, May.. Dia udah nungguin di kantin..” Jean menarik tubuhku yang enggan beranjak dari kursi kelas. “Ngapain sih, Jean.. kamu aja yang kesana.. yang ngelaporin kan kamu.. aku kan ngga minta dilaporin ke dia..” aku memasang wajah sebal ke Jean. “Please, May.. Dia tahu kamu suka dia, dan dia juga ngerasain hal yang sama ke kamu..” seketika tubuhku terpaku. Pipiku memerah. Sosok itu telah berdiri di ambang pintu kelas. Dan kini mulai melangkah ke arahku dan Jean.

“May, makasih banyak buat perasaan kamu ke aku.. Tapii..” aku yang tadinya tak berani menatapnya kini terperangah mendengar kalimat menggantungnya. “Tapi?” “Ehm.. tapi aku mau kamu nggak sekedar suka sama aku, aku mau kita jadian.. boleh?” wajah coolnya sedikit memerah mencoba meraih tanganku dan tersenyum padaku. Otomatis saja aku mengangguk.

***

Aku meraih tas punggung cokelatku dan segera berlari keluar rumah. Hari ini, aku dan Resha, sosok yang kini selalu menemani hariku, ingin merayakan 1 tahun jadian kami dengan menghabiskan waktu seharian bersama.

Pertama, seperti hari-hari sebelumnya, Resha mengajakku ke lapangan basket komplek rumahku untuk bermain basket bersamaku. “May, kok nggak focus gitu sih mainnya? Minggu lalu mainnya bagus kok jadi lemes gini?” Aku hanya mengangkat bahu. “Kita jalan-jalan ke mall aja yuk..” Resha menghentikan dribblingnya.

Setelah lelah berjalan menyusuri mall, kami berhenti di food court. Resha beranjak untuk memesan makanan, dia meninggalkanku sendiri di meja kami. Tiba-tiba.. “May, sendirian?” Fito, teman lamaku, menyapaku dan duduk dihadapanku. “Loh, Fit.. Lama nggak ketemu.. Sama pacar aku.. kemana aja??” “Aku sekolah di luar kota. Tapi sekarang balik lagi kesini.” Kami megobrol sebentar lalu bertukar nomor HP dan alamat facebook.

***

From : Resha

Honey, aq ad pertandingan d lap bskt skula. Dateng y skrng. Aq tngg.

Aku meraih handphone dengan malas. Sesekali kupalingkan kembali pandanganku ke computer.

Resha yang telah lama menanti balasanku, kini mulai membuka smsku yang masuk ke handphonenya.

From : Maya

Sori. Ak banyak tgs. G bs dtng,

Resha menghela napas panjang dan meninggalkan handphonenya di locker.

***

Fito hari ini menjemputku dari sekolah. Aku meninggalkan Jean yang bengong melihatku masuk ke mobil Fito.

“May, gila lo! Fito itu anak nggak bener! Tega banget kamu ninggalin Resha buat anak nggak bener itu..” Jean berteriak nyaring sambil berlari mengejarku. Aku diam, berpura-pura tuli dengan segala perkataan Jean.

***

“Jean, Maya masih belum masuk sekolah ya?” Resha menepuk pundak Jean yang sedang termenung di kantin. Jean hanya mengangguk lesu. “Aku takut Maya kena pengaruh Fito. Dia itu anak nggak bener, Resh,” Jean menitikkan air mata. Resha mengelus pundak Jean. “Aku udah coba telpon hpnya nggak diangkat, aku telpon rumah katanya Maya lagi les, pulangnya malem, kata tetangganya juga Maya berangkat kesekolah kok. Tapi dia ngilang gitu aja. Aku takut, Resh,” Jean menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya.

***

From: Maya

Resh, tolongin aku. Aku sendirian disini. Jl. Kartini 56.

Resha panik membaca sms itu. Langsung saja ia melaju ke alamat yang disebutkan di sms itu.

***

“May, kamu nggak apa2?? Kamu pucat banget..” Segera saja Resha mengoyak tubuh lemahku ini. Aku menyodorkan bungkusan kecil di tangan. “Aku butuh ini, Resh. Cari Fito, dia punya banyak..”. Resha terperangah ke bungkusan kecil itu. “Kamu konsumsi ini?? Narkoba nggak akan bikin hidup kamu indah Maya!! Ini pasti gara-gara cowo brengsek itu..! Iya kan, May??!!!” Wajah Resha berubah merah padam, membuatku takut untuk menatap wajahnya.

“Maya, kamu kenapa??” Jean menatap wajah pucatku yang basah oleh airmata. Jean memalingkan pandangan ke Resha, “Resh, kamu ken..” “Fito brengsek, Jean! Maya jadi gini gara-gara cowo itu!” Jean masih terlihat bingung. Resha menyahut bungkusan kecil di tangan Maya dengan kasar, “Ini! Gara-gara ini, Jean! Lihat!” Jean terlihat tak percaya. “Dimana cowo itu sekarang, May?!” Aku yang masih menangis menahan rasa sakit di kepala dan seluruh badanku menyodorkan gulungan kertas kecil bertuliskan alamat Fito. “Aku akan kejar dia. Jaga Maya, Jean. Aku percayain semuanya ke kamu, aku tahu kamu sahabat yang sayang banget sama Maya dan nggak akan ninggalin dia. Aku pergi dulu,”

Resha memasuki mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.

***

“May…,” Jean menyadarkanku dari lamunan. Aku berbalik dan langsung saja memeluk Jean. Aku menangis, mengeluarkan segala beban yang membuatku penat, “Andai saja aku nggak kenal Fito, aku nggak bakal kehilangan Resha, orang yang sayang banget sama aku, aku nyesel..” terus saja aku menangis membuat Jean ikut menitihkan airmata. “Aku juga nyesel, May. Tapi gimana lagi, ini semua takdir. Yang penting aku akan tetep disamping kamu buat jadi sahabat kamu yang selalu jagain kamu. Kayak pesan terakhir Resha buat aku,” Jean ikut menangis tersedu di pelukan.