bikin cerpen mumpung ada waktu

hihi... huree... ^^

akhirnya selese juga cerpenku.. perjuanganku nggak sia-sia.. baca ya...

inget! cuma cerpen

jangan diartiin yang nggak-nggak, nggak bakalan ada buktinya...

Ada Cinta di KOPSISku

Teett.. teett…

Bel istirahat berbunyi. Bel yang harusnya disyukuri oleh seluruh siswa. Tapi aku nggak. Aku selalu mengutuk bel itu. Aku benci jam istirahat.

“yippiee… Akhirnya break time.. aku udah boring dari tadi di kelas.. pelajarannya susah banget,” Selly bangun dari tidurnya dengan gembira. Aku hanya diam, cemberut. “yee.. orang kamu molor ampe ngiler-ngiler gitu.. mana tau kalo pelajarannya susah.. aku uda laper banget.. krucuk-krucuk nie..” Gina meringis sambil memegang perutnya yang sedikit mengempis, mungkin memang benar-benar kelaparan. Aku hanya diam, cemberut. “Vio, cemberut aja siy, fisika tadi kan nilai kamu paling bagus.. uda due gag usa dilipet-lipet gitu mukanya..” Gina mencoba menghiburku sambil mencubit pipiku yang kata semua orang (walaupun aku nggak ngerasa) sedikit chubby. Aku hanya mengangguk sambil mencoba tersenyum pada mereka dan berjalan meninggalkan mereka yang akan menuju kantin sekolah.

“Lho, emang tadi ulangan fisika dibagi? Aku kok nggak tau?” tanya Selly pada Gina. “Kamu sie ngorok mulu.. Bel bunyi aja langsung melek..” jawab Gina sambil memutar bola matanya. Selly hanya meringis.

ººººº

Aku ngerasa gag adil. Setiap jam istirahat aku harus menjaga koperasi sekolah. That’s my responsibility. Huuhh.. Mereka, para guru Pembina menunjukku sebagai ketua pelaksana kerja koperasi. Aku nggak bisa nolak lah. Otomatis setiap hari aku harus duduk di balik meja pengawas piket. Setelah para ‘anak buahku’ jualan, di setor ke aku. Setiap harinya.

Sepuluh langkah menuju pintu koperasi aku sudah bisa melihat anak buahku duduk menungguku untuk membukakan pintu warung sekolah itu. “hmm.. Ghea dan… hah??!! Kenapa Fian ikutan nangkring disitu??!!” batinku dalam hati.

“Ghe, jaga ama Fian kamu?” tanyaku keheranan. “Gimana sih loe. Mulai minggu ini kan ada pertukaran anggota pokja.” Ghea yang anak pindahan dari Jakarta memang selalu menggunakan bahasa loe-gue. Aku baru sadar setelah Ghea nyerocos tadi. Fian yang dari tadi mringas-mringis menyodorkan kertas jadwal, “Pikun banget sih.. Kamu kan ketuanya..”. “Iya.. iya.. Inget aku..” aku menampik kertas jadwal berwarna kuning itu dan langsung membuka pintu koperasi.

ººººº

Nggak tau kenapa aku ngerasa Fian selalu merhatiin aku. Apa aku yang keGe-eRan ya? Setiap Fian jaga selalu merhatiin aku yang duduk dibelakang menanti setoran.

Nggak cuma waktu jaga aja. Aku yang memang sekelas dengannya selalu merasa diperhatiin. Ada yang salah sama aku? Sering kali aku memergokinya sedang memandangku, dan ketika mata kami bertemu, dia buru-buru memalingkan pandangan.

ººººº

Siang ini aku pulang terlambat. Ada rapat organisasi yang mau nggak mau harus kuhadiri. Aku ngerasa kurang sehat hari ini, tapi mau gimana lagi, harus pulang naek angkot.

Setelah turun dari angkot ada hal aneh yang aku rasakan. Pandanganku tiba-tiba jadi kabur. Dan… Aku nggak ingat apapun setelah semua yang kulihat menjadi gelap.

ººººº

“Sayang… Sayang.. Udah sadar, Vi?” suara lembut Mama membangunkanku. “Kenapa, Ma?” tanyaku sambil mencoba duduk walau aku masih merasakan pening di kepala. “Kamu tadi pingsan dijalan. Untung ada Fian lewat. Jadi tadi Fian bawa kamu pulang.”. “Hah? Fian?” aku melongok melihat seorang cowok yang duduk di sofa ruang tengah. Fian tersenyum padaku dan aku pun membalasnya.

Aku yang masih merasa lemas melanjutkan tidurku.

ººººº

Teett.. teett..

Jaga kopsis lagi. Aku berjalan menuju koperasi sekolah bersama Fian. Hari ini memang jadwal bagi Fian dan Ghea untuk jadi anak buahku, tapi Ghea gak masuk hari ini. So, aku merangkap menjadi anak buahku sendiri.

Ketika bel masuk berbunyi. Aku dan Fian menghitung pendapatan hari ini. Kesempatan bagiku buat menanyakan hal-hal yang selama ini mengganjal dipikiranku. Perasaanku mengatakan bahwa Fian, cowo terkeren di kelasku yang sudah lama kukagumi ini suka sama aku.

“An… Ehmm.. Thengs ya yang kemaren” aku mengawali obrolan yang sudah kuperhitungkan lama dan menggunakan rumus-rumus aljabar yang aku pelajari semalam dengan sedikit ragu-ragu.

“kemaren??” Fian terdiam sepertinya berfikir dan mengingat-ingat, “Oh.. iya..iya.. Biasa aja kali..”. Fian melanjutkan menghitung uang digenggamannya.

Aku terus memperhatikan Fian tanpa melakukan hal apapun yang harusnya aku lakukan. Harusnya sih aku mencatat barang-barang yang sudah terjual. Tapi nggak dulu buat sekarang. “Trus, ngapain kamu bisa ada dijalanan deket rumah aku?” tanyaku menyelidik.

“Aku cuma pengen tau rumahmu aja.” Fian menjawabnya dengan cool. Keren.

Aku hanya bisa terbengong-bengong. Fian menyerahkan uang yang telah dihitungnya padaku. “Semuanya delapanpuluh enam ribu lima ratus. Aku balik duluan,” Fian melenggang pergi meninggalkanku yang masih bertahan dalam posisi terbengong-bengong.

ººººº

Hari ini aku pulang tepat waktu. Bukan karena nggak ada rapat organisasi, tapi karena aku ada janji dengan Gina dan Selly buat nonton. Tanpa beban aku bolos rapat, nggak biasa sih, tapi ingin kubiasakan.

Sampai dirumah, ternyata Mama ada dirumah. Biasanya Mama jam segini masih di kantor. “Lho, Ma, kok dirumah?” tanyaku sambil mencuci tanganku.

“Iya, nanti Mama mau ajak kamu ketemu sama temen Mama. Namanya Om Rio, orangnya baik. Mama kemaren dilamar sama dia,” mama nyerocos sambil memilih-milih pakaian di dalam lemari.

“Hah?? Om Rio yang dulu mama critain itu?” aku sudah nggak kaget lagi.

Sudah setahun mama dan pacarnya itu menjalin hubungan. Mama yang memang lagi single setelah bercerai sama papa lima tahun yang lalu memang menurutku cocok dengan Om Rio yang kata mama baik dan perhatian sama mama. Walaupun aku nggak pernah bertemu dengannya, aku sudah memahami bagaimana Om Rio itu. Aku memahaminya dari kebahagiaan yang terpancar di wajah Mama akhir-akhir ini. Karena itu, aku pasti setuju jika Om Rio dan Mama menikah.

“Iya yang dulu itu mama kasih liat fotonya. Dan yang waktu kamu ulang tahun kirim kado itu,” mama mengajakku duduk di ruang tengah.

“Ma, Vio pasti setuju dengan apa yang mama pilih. Apa yang bikin mama bahagia pasti bikin Vio bahagia.” Aku tersenyum pada mama. Mama memelukku sambil menangis haru.

“Ayo ganti baju. Kita berangkat sekarang.” Ujar Mama setelah memelukku.

“Maaf, Ma. Vio sudah janjian sama Gina dan Selly mau nonton.”

“SMS ke mereka, bilang kamu nggak bisa ikut,” perintah Mama. Aku pun nggak bisa mengelak.

ººººº

Selly menanti waktu nonton sambil bersepeda keliling kompleks. Tiba tiba ada SMS masuk ke hapenya.

Neng, sorry g bs iktan nonton.. Mum ngjk aku prgi mnda2k.. ad ursan pnting.. sorry..

“Sell, jangan nyarang didepan rumah ku dong. Aku mau keluarin mobil ni,” Fian yang memang satu rukun tetangga dengan Selly, walaupun nggak rukun-rukun amat, berteriak dari garasi rumahnya.

“Iya… iya…” Selly mencibir sambil ngacir sama sepedanya.

ººººº

Gina seperti biasa, duduk di meja kasir resto milik keluarganya. Menunggu orang yang membayar makan siangnya dan waktu nonton. Setelah selesai bertransaksi dengan salah satu pelanggannya yang cerewet dan bikin kesel, tiba-tiba ada SMS masuk ke hapenya.

Neng, sorry g bs iktan nonton.. Mum ngjk aku prgi mnda2k.. ad ursan pnting.. sorry..

“Hiihh… ni anak. Bikin acara ndiri malah kabur..” Gina menggerutu sendiri sambil memandangi SMS. Sesaat setelah itu telepon di meja kasir bordering. Terdengar suara seorang laki-laki dari telepon itu.

“Baik.. baik.. 4 orang, ya??... Iya, atas nama??.... Rio Hertanto.. Pesanannya?? … Oke.. terima kasih..” Gina mencatatnya di buku pesanan setelah menutup telepon.

Gina berlari ke Tantenya dan menyerahkan tugasnya. Lalu bersiap pergi nonton, walaupun cuma berdua sama Selly.

ººººº

Aku dan mama tiba di Resto tempat Mama dan Om Rio janjian. “Selamat datang, Ibu, Mbak..” aku sepertinya megenal waitress ini. Benar, setelah search engine di otakku bekerja, aku ingat bahwa dia adalah tante dari sahabatku Gina.

“Saya sudah pesan meja atas nama Rio Hertanto.” Mamaku berbicara dengan suara yang halus. Ciri khas mamaku.

“Baik, saya antar. Bapak Rio sudah menunggu.” Tantenya Gina mengantar kami.

Beberapa langkah menuju Om Rio, aku merasa mengenal seorang cowok yang duduk semeja dengannya. “Jangan-jangan?!!” teriakku dalam hati.

“Halo, Mir. Ini ya yang namanya Vio. Cantik sekali seperti mamanya.. Apa kabar?? Saya Rio..” Om Rio menjabat tanganku. Aku menjawabnya dengan terbata-bata. “B..ba..baik..”

“Ini Vio, Mira.. Anak Om, namanya….” Belum sempat Om Rio menyelesaikan kalimatnya, cowo itu menyapaku. “Hai, Vi. Sore tante.”

“Sore.. Lho, kamu anaknya Rio?? Ya ampun..” mamaku menepuk pundak cowo itu. Aku masih terbengong, sepertinya bengong telah ditetapkan menjadi hobi baruku.

“Loh, sudah kenal?? Kok bisa??” Om Rio ikut terbengong-bengong juga ternyata, mungkin Om Rio juga tertarik dengan hobi baruku ini.

“Aku sudah kerumah tante Mira sama Vio, pa. Dulu kan papa yang kasih alamatnya.” Cowo itu tersenyum-senyum sendiri di tengah orang-orang yang lagi menekuni hobi bengongnya.

“Dulu, waktu Vio pingsan di jalan. Anakmu yang nolongin. Dia nganter sampai rumah. Nggak bilang sih dia. Cuma bilang temen sekelasnya Vio aja.” Mamaku melirik cowo itu dengan nada kesal..

Om Rio tertawa terbahak-bahak, “Fian… Fian… kamu ini ada ada saja…”

Aku hanya diam sambil berkata dalam hati..

“Hancur sudah harapanku buat jadi ceweknya Fian. Cowo keren dan pinter sesekolah itu sebentar lagi akan jadi saudara tiriku. Pupus..”