isenk-isenk. ha ha.

"Nggak sengaja bikin cerpen. Hari ini lagi sendirian dirumah. Cowoq juga lagi sibuk. Dari pada bengong.. Hi Hi Hi.. Baca ia.. Jangan diketawain kalo emang gag sebagus iang kalian kira.. Hi Hi.. Biar aku sendiri ian menertawainya. ^^"

Pahit

Aku bukan cewek jomblo. Tapi banyak orang yang nggak tau kalau aku bukan jomblo. Alasannya sama, mereka nggak pernah tau sama cowokku. Aku nggak pernah punya rasa sama cowokku. Dia kayaknya juga. Nggak pernah jalan ama cowokku. Nggak pernah nge-date ama cowokku. Nggak pernah dianter cowokku. Ngobrolpun jarang banget. Bahkan hamper nggak pernah. Ketemu aja cuma say “hai”.

Berawal di malam perpisahan kakak kelasku dulu. Aku dan tiga orang sahabatku adalah satu-satunya pengisi acara dari kelas 10. Dan Dean cowokku sekarang, pengisi acara dari kelas 11.

Aku nyatain rasa cintaku ke Joe, kakak kelasku. Dia duduk di kelas 12 saat itu. Dia bilang cinta juga ke aku, tapi sayang, dia dan aku nggak bisa pacaran. Dia harus ngelanjutin kuliahnya di Australi. Aku bisa terima itu.

Setelah itu, Joe bilang, “Jadian sama Dean aja. Dia adekku. Kamu kenal kan?”. Aku Cuma terbengong sambil mengusap air mataku. “Dean bilang, pengen punya cewe cantik, perhatian, adek kelas juga. Itu dia…,” Dean lewat dan langsung saja Joe menarik kerah bajunya. “Jadian sama Kirana ya?”. Dan nggak tau kenapa Dean ngangguk aja. Maka jadian lah aku dan Dean.

Setelah aku jalanin hampir setahun, aku nggak pernah ngerasa cocok sama dia. Tapi aku nggak berani mutusin hubungan ini karena aku sayang. Aku sayang sama Joe. Sayang sama kakak Dean yang udah ngasih keputusan buat aku dan adeknya.

Sore ini aku ingin cari solusi masalahku ini sama sahabat-sahabatku. Aku putusin buat ikut ketiga sahabatku nongkrong di kafe Brown, tempat nongkrong favorit kami, buat curhat ke mereka. Sesampainya di kafe itu, aku cuma mergokin Sheila yang lagi baca-baca artikel majalah langganannya yang baru terbit, dan Gina yang lagi nelpon pacarnya. Ya, aku kalah sama Gina dalam urusan cinta, dia sudah 6 bulan pacarannya, mulus banget. Sedangkan aku, Dean nganter aku pulang aja nggak pernah, adanya juga aku pulang naek angkot kalau papa nggak bisa jemput aku. Aku duduk di kursi sebelah Sheila dengan muka kusut. Mereka berdua melirikku, Sheila langsung menutup majalahnya dan Gina segera mengakhiri obrolannya dengan cowoknya. “Kenapa, Na? Sakit?” tanya Gina. Aku menggeleng. “Ada masalah? Cerita dong ke kita..”, bujuk Sheila. Aku menggeleng, “nanti aku cerita kalau Ibeth dateng,”. Mereka berdua saling berpandangan sejenak sebelum SMS mampir ke HP Sheila yang bunyinya keras banget. “Girls, baca nie…”, Sheila meletakkan HPnya di meja supaya bisa dibaca Gina dan Aku. Dari Ibeth: Girls, ak ga bisa iktan nongkrong brng.. ak mo nmnin ma2 k salon. Sorry. Hav fun y. Aku menghela nafas panjang. “Gimana, Na? Cerita aja ke kita berdua..,” bujuk Gina. Tiba-tiba aku inget kalau Mama nitip pesanannya di Butik langganannya. “Sorry, temen-temen. Aku ceritain besok aja. Aku harus ngambil pesenannya mamaku sekarang. See you guys..” langsung kutinggalkan mereka yang terbengong-bengong.

Sesampainya di butik tante Mira, aku langsung menuju kasir, tempat tante Mira melayani pesanan-pesanan sohibnya. “Tante, Kirana mau ambil pesanan Mama..” “Ini, Sayang.. Bilang mama ada model baru lagi, tante bikinin khusus buat Mama kamu..” Aku mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan butik.

Ketika aku membuka pintu Butik, aku lihat Dean dan…. Sahabatku, Ibeth.. Mereka bergandengan tangan dan Dean mencium kening Ibeth. Entah mengapa, sakit rasanya, aku merasa ada suatu sisi hatiku yang berontak. Ibeth memergokiku berkaca-kaca menerawang ke dia dan Dean. “Kirana!” Ibeth melepaskan tangannya dari tangan Dean dan berlari mengejarku. Tapi segera aku masuk ke mobil dan meninggalkan semua kepeninganku di depan butik tante Mira dengan kecepatan tinggi, menghilangkan jejak.

Setelah berputar-putar mencari tempat aman untuk sendiri. Aku menemukan kafe di sudut area perkantoran papaku. Jam setengah tiga sore. Sepi-sepinya kafe ini. Aku duduk di meja bundar yang terlihat nyaman dengan view kolam ikan yang terlihat segar. Menyegarkan pandangan dan pikiranku yang sudah terkontaminasi dengan apa yang kulihat dan kupikirkan tadi. Aku memesan coklat panas dan setelah itu pelayan mengantarkannya padaku. Kurasakan seorang pria dan seorang wanita duduk di meja belakangku. Aku geser kursiku agar sedikit lebih maju. Kuusap berulang kali airmataku sampai benar-benar kurasa tenang. Lalu ku ambil HPku, aku menelpon Sheila. “Halo, Na?” suara Sheila terdengar merdu dan membuat hatiku tenang, bertolak belakang dengan suaraku yang serak. Aku menangis lirih, “La, aku tadi mergokin Dean jalan bareng Ibeth. Serius. Dean nyium Ibeth,” Aku menangis lagi. Ku dengar kursi belakangku bergeser. Tak kuhiraukan. “Kamu dimana, Na?” tanya Sheila. “Aku dikafe Ji-Lo-Corner. Deket kantor Papaku,”.”Aku sama Gina kesana ya? Tungguin..” kututup pembicaraanku di telpon. Kutidurkan kepalaku di meja.

Tak lama kemudian, suara Gina memanggilku, “Kirana Indriani, sayang…. Aku nggak percaya Ibeth sama Dean bener-bener jadian. Tadi aku confirm ke Ibeth, dia nangis dan ….. bla bla bla…” Aku terbangun mendengarnya, tapi tak ku dengarkan ketika aku tersadar pria yang sedari tadi duduk di belakangku, berdiri di sampingku dan memanggil namaku.. “Kirana…” Aku terbengong sambil berkaca-kaca. Sheila yang tadinya sibuk mengusap airmataku dengan tissue berhenti dengan aktifitas dadakannya. Terbengong-bengong. Gina yang berkicau lama kini terdiam, terbengong-bengong melihat pria itu. Aku dan kedua sahabatku merasa tak asing dengan suara dan wajah pria itu. “Aku sudah paham dengan ceritamu tadi, maafkan aku. Semua salahku telah buat kamu terjebak dengan cinta nggak beralasan sama Dean. Maaf.. Aku nggak bermaksud nguping, tapi aku nggak sengaja bertemu duduk di belakangmu, dan….” Airmataku menetes. Hatiku sekali lagi berontak. “Kenapa cinta itu sakit dan kenyataan itu pahit,” jeritku dalam hati. Segera kutinggalkan dua sahabatku yang bukan pengkhianat itu, Joe yang telah menjebakku di tengah kedunguanku atas cinta ini dan belum tuntas dengan argumentasinya, dan seorang wanita cantik yang sedari tadi semeja dengan Joe. Ku kira dia kekasih baru Joe. Pahit.